Bagian yang tersulit dalam mengikut Tuhan Yesus
adalah mengambil rupa seorang hamba. Panggilan untuk mengambil rupa seorang
hamba ini harus di barengi dengan menanggalkan semua hak bukan hanya sebagian. Ini
tercermin dalam Filipi 2:5-8, Hendaklah
kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga
dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap
kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan
telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah
merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Orang percaya tidak dapat membangkitkan kuasa Yesus
di dalam dirinya sebelum berani menanggalkan semua hak-hak hidupnya.
Menanggalkan hak artinya “rela” tidak menikmati apa yang menjadi bagian atau
haknya atau rela menanggalkan apa yang menjadi miliknya demi kepentingan
Kerajaan Allah. Hak-hak tersebut antara lain adalah hak untuk dihormati dan
disanjung, dikasihi, diperlakukan adil, hak mau dilayani, hak hidup wajar
seperti apa yang dunia ajarkan.
Sebenarnya setiap orang percaya harus sadar bahwa penebusan dari Tuhan Yesus diatas
kayu salib menandakan bahwa hidup kita adalah bukan milik kita lagi melainkan
kepunyaan dari sang penebus itu sendiri. Sebab penebusan oleh Tuhan berarti
dosa-dosa kita diampuni, pelanggaran kita dihapus, surga disediakan, dunia
menolak kita namun sorga menerima kita (1Kor. 6:19-20). Dengan demikian kita sama
seperti seorang budak yang dibeli oleh seorang tuan, maka tuan itu yang berhak
atas budak tersebut. Seorang budak tidak berhak atas dirinya. Selama seseorang
masih mempertahankan haknya, maka ia tidak
memberi ruang bagi Tuhan Yesus untuk menguasai dirinya. Hal ini menjadi
penyebab kegagalan utama kita sebagai orang percaya.
Paulus tidak melarang orang percaya memiliki
berbagai fasilitas materi, tetapi ia menasihati agar tidak merasa berhak
menikmati hidup sama seperti anak-anak dunia. Paulus sendiri membuktikan
kebenaran pernyataan-pernyataan di dalam suratnya dan di dalam hidupnya, sampai
ia mati sebagai seorang martir di kota Roma. Ia bukan hanya bisa berbicara, tetapi juga
melakukan sebagai teladan hidup (Kis. 20:22-24). Paulus sendiri berkata: “ikutilah teladanku” (Filipi 3:17).
Kehidupan Paulus yang kita harus teladani adalah keberaniannya menanggalkan semua haknya. Dalam satu kesaksian
melalui tulisannya ia berkata: Kalau
demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil
tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil (1Kor.
9:18). Dari pengakuannya ini nampak bagaimana ia rela menanggalkan semua haknya
demi untuk memiliki rupa kebanggaannya yaitu Rupa Seorang Hamba yang berkenan di hati Tuhan.
Perjalanan hidup Yesus di bumi sampai pada bukit
Golgota menunjukkan kehidupan yang menanggalkan hak-hak-Nya. Di kayu salib Ia
tergantung dengan tubuh yang sangat menyedihkan. Ia hanya bisa menatap ibu-Nya
yang tentu dalam keadaan sangat terpukul. Kehidupan Tuhan Yesus kelihatannya
begitu tragis, tetapi justru itulah keagungan Pribadi yang telah menanggalkan
semua hak-Nya dan mempersembahkannya bagi Bapa. Gaya hidup seperti ini yang
sejatinya harus kita kenakan dalam kehidupan dan dalam pelayanan kita.
Mengambil rupa seorang hamba adalah urusan pribadi
dengan diri sendiri dihadapan Tuhan. Ini daerah yang sulit untuk dilihat karena
mungkin dihadapan orang kelihatannya memiliki rupa seorang hamba tetapi di
hadapan Tuhan belum tentu, bisa jadi hanya menghidupi segala rupa-rupa dunia
yang penuh kemunafikkan. Untuk itu, hanya orang yang sungguh-sungguh serius
dengan Tuhanlah yang bisa mendapatkannya. Mari berjuang sampai pada akhirnya
Tuhan berkata bagi kita : “Inilah Hamba-Ku Yang Setia”!
Tuhan Yesus Memberkati…
By : Inter Hulu