Ikuti Kami :
Ikuti Kami : :
Alive in Clarity

Pelacur/Tuna Susila

Interpretasi Hulu - 11 Agustus 2022
Total Dilihat : 94
Bagikan :

Yohanes 8 : 1-11

Dalam kisah ini, dijelaskan seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Tidak dijelaskan apakah ini pertama kalinya wanita ini berzinah atau memang ini merupakan pekerjaannya(Pelacur). Akhir dari nats ini adalah "Akupun tidak menghukum engkau (ayat11b). Dalam bidang ilmu hukum, yang berhak membuat putusan hukuman adalah seorang hakim, jadi dalam bahasa lainnya "Akupun tidak menghakimi engkau".

Pada dasarnya sifat manusia suka menghakimi orang lain, tidak hanya dilingkungan orang yang tidak kenal Tuhan, dilingkungan orang Kristen bahkan sekelas pelayan dan hamba Tuhan, karakter ini masih muncul dipermukaan. Para kriminal diberi gelar "sampah masyarakat" atau bahasa gaul sekarang "Toxic". Tetapi kadang kita tidak sadar saat kita menghakimi seseorang, kita sudah melakukan "tindakan kriminal rohani". Disaat kita dengan lantang melabeli orang lain dengan istilah Toxic, disaat itu kita sedang menyatakan bahwa kita adalah Toxic dengan varian berbeda.

Seorang guru berkata "Cara kita memandang orang lain, berbicara, dan menegur seseorang menunjukkan etika dan estetika kita".

Akui saja, bahwa kita semua(termasuk penulis) dulunya adalah mantan "Toxic" yang sudah dipulihkan, malah sesekali atau mungkin masih sering menjadi "Toxic" disaat kita tidak berjaga-jaga. Oleh sebab itu kita butuh Tuhan setiap waktu, karena kita tidak pernah bisa menjadi pribadi yang baik dengan kekuatan kita sendiri.

Dulu ada istilah : maling teriak maling, mungkin saja kedepan akan ada istilah gaul "Toxic teriak Toxic".

Dalam bidang hukum, dengan menimbang bahwa pelaku kriminal punya kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik, bahkan bisa lebih baik dari orang yang tidak pernah melakukan tindakan pidana/kriminal, maka beberapa "label" diubah menjadi kata yang lebih baik :

  1. Penjara menjadi lembaga permasyarakatan.
  2. Pelacur menjadi Tuna susila.
  3. Pemerkosa menjadi pelaku tindakan asusila.

Kadang orang Kristen terlalu Kudus dan rohani dan menghakimi orang lain "Toxic" yang harus dijauhi. Dasar ayat yang dipakai adalah "Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik". Tidak ada kesalahan dengan ayat ini, jika tidak dianalisa dengan pemikiran yang sempit. Mereka berkesimpulan jika mereka harus menjauhi orang2 yang buruk, biar mereka tetap memiliki kebiasaan yang baik. Jika kita menjauhi orang-orang yang buruk, bagaimana kita bisa menjadi saksi hidup?

Apakah Yesus 3,5 tahun pelayanannya selalu bersama ahli taurat biar kebiasaan Yesus yang baik tidak rusak/tetap terjaga?

Jangan sesat !!! Pergaulan yang buruk artinya : mengikuti cara hidup yang buruk.

Dalam kamus Indonesia, dasar kata "gaul" juga digunakan untuk kata "menggauli/hubungan intim", ini merujuk pada hubungan yang tidak ada BATASAN lagi.

 Yesus setiap hari berteman dengan para pendosa, tapi Dia tetap punya BATASAN, dengan tidak membiarkan itu menjadi pergaulan yang buruk. Para Pendosa berteman dengan Yesus, dan sejak itu mereka(para pendosa) sebahagian bertobat dan meninggalkan pergaulan buruk mereka. Sebahagian lagi? Ya...sebahagian lagi justru yang teriak-teriak "Salibkan Dia". Jadi apakah seseorang itu mau bertobat, setengah bertobat, gak bertobat-bertobat, atau malah mau "menyalibkan"mu, itu urusan pribadinya sendiri.

  1. Jangan menghakimi dan melabeli mereka yang masih belum bertobat sungguh-sungguh, karena timbangan yang kita pakai untuk menghakimi akan ditimbangkan kepada kita.
  2. Jangan jauhi mereka, karena mereka perlu bantuan untuk berubah. Dekati mereka tetapi tetap punya BATASAN.
  3. Ingat kita tidak sempurna dan masing-masing punya "duri dalam daging/kelemahan" daripada fokus menghakimi sesama , alangkah baiknya kita berfokus memperbaiki diri.

Jika gereja siap untuk tidak menghakimi dan menerima yang disebut  "sampah masyarakat/Toxic" itu, barulah Tuhan akan kirimkan para pelacur, pembunuh, pemakai narkoba, penjudi, dan pelaku kriminal lainnya untuk masuk gereja (menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memulihkan mereka).

Semua ini kembali kepada dasar pengorbanan Yesus yaitu "KASIH". Firman Tuhan katakan, sehebat apapun pelayanan kita jika tidak punya KASIH, kita sama dengan "gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing", bersuara tapi kosong. Atau istilah Indonesianya "tong kosong nyaring bunyinya".

Firman yang lain berbunyi : Pada akhirnya yang tinggal 3 hal ini, Iman, Pengharapan, dan KASIH, dan yang terbesar diantaranya adalah KASIH.
Firman yang lain juga berbunyi: pada akhirnya banyak orang yang teriak-teriak menyatakan mereka bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan, dan bla...bla..bla...tapi Tuhan tolak, karena tidak melakukan kehendak Bapa.

Apa kehendak Bapa?  Melayani dengan KASIH.

Mari jangan lupa hukum yang utama dan terutama: Kasihilah Tuhan Alllahmu dengan segenap hati,jiwa,akal budi. Dan hukum yang kedua YANG SAMA dengan itu, Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.

Seseorang yang punya KASIH, akan mampu untuk berbelas KASIHAN.
Seseorang yang mau belajar untuk MENGASIHI akan mudah untuk MENGASIHANI.

"Daripada kita menghakimi seseorang, alangkah lebih baik dan bijak bila kita semua(termasuk saya) belajar Mengasihi, mengasihani, dan berbelas kasihan dengan cara mendoakannya"

Tuhan berkati kita SEMUA(mantan2 "Toxic" yang masih harus tetap belajar dan berjuang hari lepas hari bersama Tuhan).

 

 By : Friend Algunawan Harefa

 


Komentar
Berikan Komentar
Belum ada Komentar
Berita Terkait