Kisah Para Rasul 18:2-3 (TB) Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi
bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan
Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua
orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka.
Dan karena mereka melakukan pekerjaan
yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama,
karena mereka sama-sama tukang kemah.
Tulisan
hari ini didasarkan pada ayat yang dibagikan pada hari minggu (02/10/2022)
dengan tema Branching out (Bercabang) dan subtema WORKING (bekerja). Sharing saya
kali ini saya beri judul "Pegang Kepercayaan Tuhan".
Sebagai
orang yang percaya, kita harus menyadari bahwa semua yang kita
punya (harta, pekerjaan, kepintaran, posisi, jabatan, keluarga,bahkan nyawa kita
sekalipun) adalah titipan Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Oleh sebab itu,
tidak ada yang perlu kita sombongkan dengan semuanya itu, karena yang namanya
titipan, bisa diambil kapan saja. Yang harus kita lakukan adalah menjaga
titipan Tuhan/memegang kepercayaan Tuhan itu sebaik mungkin.
Jika Paulus memutuskan singgah kerumah akwila dan priskila, itu berarti mereka adalah orang yang dipandang baik oleh Paulus, dan jika Paulus pada akhirnya memutuskan tinggal dengan mereka itu menunjukkan ada sesuatu yang special dari Akwila dan Priskila selain hanya sekedar kesamaan pekerjaan sebagai tukang tenda/kemah. Hal yang special itu adalah Akwila dan Priskila adalah suami istri yang bisa "Pegang Kepercayaan Tuhan" baik dalam pekerjaan sekuler maupun pekerjaan pelayanan Tuhan.
Bagaimana
cara kita bisa pegang Kepercayaan Tuhan?
1.
Kita harus menganggap
Kepercayaan itu sebagai hal yang sangat penting.
Sebagai orang yang percaya atau pelayanan Tuhan, maka
semua yang Tuhan percayakan kepada kita itu menyangkut nama baik Tuhan. Jika
kita menganggap nama baik Tuhan itu hal yang penting, maka kita akan berusaha
melakukan yang terbaik dalam semua aspek hidup kita.
Kolose 3:23
(TB) Apa pun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
2.
Kita harus mengenal siapa
yang memberi kepercayaan itu.
Apa yang saudara lakukan jika seorang pemulung
menitipkan sebuah jam tangan yang sudah mati dan mengatakan bahwa jam itu
adalah jam yang sangat mahal seharga ratusan juta? Pasti saudara akan membuang
jam itu tak lama setelah pemulung itu hilang dari pandangan saudara, karena
tidak mungkin seorang pemulung punya jam harganya ratusan juta, kalau toh iya,
gak mungkin dia titipkan, pasti dijual untuk merubah ekonominya.
Namun apa yang terjadi jika yang memberikan itu Jokowi
dengan pengawalan lengkap dari Paspampres dan mengatakan hal yang sama? Saya
percaya kita akan menjaganya sebaik mungkin, kapan terdesak bisa dijual dan
berpikir pasti ada bahan permata dalam jam itu. Kenapa? Karena kita mengenal
siapa yang memberikannya, yaitu seorang presiden yang sangat dapat dipercaya
dan sekaligus pengusaha mebel dan kayu yang sukses, jadi masuk akal jika mampu
membeli jam seharga ratusan juta.
Yohanes 14:7a
(TB) Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti
kamu juga mengenal Bapa-Ku.
3.
Kita tidak boleh
egois/memikirkan diri sendiri.
Anak-anak Sekolah Dasar(SD) dari kelas 1 sudah diajari
slogan "kita harus mementingkan kepentingan umum diatas kepentingan
pribadi". Jadi kalau kita masih hidup dengan keegoisan kita, maka maaf,
artinya kita sama atau lebih rendah daripada anak kelas 1 SD.
Tuhan Yesus memberkati !
By : Friend Algunawan Harefa