Mari kita Baca Matius 4:1-4
"Maka Yesus
dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis."
Dalam ayat
ini kita belajar tentang 2 kebenaran yang musti kita percaya, bahwa dalam hidup
ini kita gak akan hanya melalui jalur yang bebas hambatan, yang enak-enak aja.
Adakalanya Tuhan sebagai Gembala yang baik di Mazmur 23 “… sekalipun aku
berjalan di lembah kekelaman” yang artinya ada momen Tuhan mengizinkan kita
melalui jalan-jalan yang sulit tersebut. Jadi ketika kita mengalaminya, kita ga
perlu kecewa sama Tuhan, karena ini memang kebenaranNya.
Berikutnya
kita harus mengingat bahwa Tuhan tidak mencobai dan dicobai oleh siapapun, walaupun
Dia mengizinkan kita, kerap sekali dalam hidup ini sepertinya dicobai.
"Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam,
akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika
Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”
Pertanyaannya
apakah iblis terlambat yang mencobai seseorang mengenai makanan ketika Dia sudah
selesai berpuasa? Kenapa iblis mencobai Yesus yang dikatakan akhirnya laparlah Yesus yang artinya
ini puncak dari kelaparan-Nya atau iblis sengaja datang di waktu ini untuk
mencobai Yesus, ketika Dia lapar. Iblis percaya ini waktu yang tepat untuk
mencobai Yesus ketika Yesus lapar, ketika masa berpuasa sudah selesai, yang
artinya makan sudah boleh. Ini pembelajaran bagi kita, bahwa iblis paling lihai
mencari waktu yang paling tepat untuk mencobai kita sebagai manusia di dalam
kelemahan kita, lapar, lelah, lagi kesal. Iblis mencobai kita dengan hal yang
sudah boleh. Makan ketika masa berpuasa sudah selesai itu boleh, “Jika Engkau Anak
Allah perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Sepertinya iblis
mempertanyakan kuasa Yesus dan menantangnya. Iblis kerap kali akan mencobai
kita dengan membuat kita mempertanyakan status kita, kita punya identitas
dimulai dengan, “jika engkau anak Allah..” dan tentunya iblis akan memancing
kita untuk membuktikan diri seolah-olah menantang kita. “kalau kamu anak Allah,
bisa ga kamu perintahkan batu-batu menjadi roti?” pertanyaannya bukan bisa apa
engga, tentu bisa, tapi kalau Yesus taat kepada iblis di sini maka Yesus jatuh
pada pencobaan ini, pencobaan yang juga kerap kali kita alami untuk menjadikan
yang baik seperti roti. Yang baik artinya yang udah boleh, makan setelah masa
berpuasa itu selesai udah boleh. Menjadikan hal yang baik yang kayaknya boleh
menjadi hal yang utama. Apa hal-hal baik yang bisa jadi paling penting dalam
hidup kita, kerja, keluarga, bisnis, dll.
Banyak hal
dalam hidup ini merupakan hal-hal baik bukan hal buruk, kita tampaknya sudah
cukup cerdas untuk tidak melakukan karena dapat merusak diri. Iblis sering kali
datang ke hidup kita lewat hal-hal baik tapi dia menggoda kita untuk menjadikan
hal baik ini menjadi yang utama, karena ketika yang baik menjadi utama maka hal
utama akan terbengkalai.
"Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan
dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
Artinya ada
hal yang lebih penting bagi Yesus saat itu. Di saat itu ketika Yesus sudah
lapar karna 40 hari ga makan, iblis seolah membangkitkan kekhawatiran “lu mesti
makan, kan udah boleh makan, nanti bisa mati lo” tapi Yesus dengan berani
menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang
keluar dari mulut Allah.”
Artinya :]
1. Sebagai Anak Allah, kita harus mengingat bahwa hidup mati kita di tangan Tuhan. Bukan ditentukan dari sesuatu “jasmani” yang sebatas roti.
2. Hidup kita ditentukan oleh perkataan Tuhan, artinya tidak mengikuti kekhawatiran kita. Implikasi paling sederhana, kita harus mengingat bahwa tubuh kita bukan hanya jasmani tapi juga rohani, setiap kali kita ingat tubuh perlu makan maka rohani kita juga perlu diberi makan dan hanya Firman Tuhan yang bisa memberi makan kerohanian kita, kita ga bisa mengisi sendiri kekosongan dan kehausan rohani kita.
Yesus tau
persis, kalau Yesus menjawab seperti tantangan iblis. Yesus tau bahwa Yesus
tunduk kepada iblis, kalah hanya karena cobaan dan menggantikan Firman Tuhan,
apa yang Tuhan bilang. Di sini Yesus seolah berkata, “Saya akan makan bukan
karena saya udah boleh makan, tapi karena ketika Bapa sudah memberikan instruksi
bahwa saya harus makan.”