(Ayub 42:1-6)
-Apakah
dengan bertambahnya umur manusia juga menambah wawasannya?-
Alkitab mencatat Ayub sebagai laki-laki baik dan jujur. Ia seorang yang
takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. (Ayub 1:8). Namun bukan
berarti Ayub terbebas dari berbagai godaan. Nyatanya, Allah
tetap
mengizinkan iblis untuk menguji seberapa baik dan salehnya Ayub. Maka
dari itu Ayub harus tetap meperjuangkan hal tersebut. Melewati
berbagai proses, rintangan, berbagai hambatan sampai berhasil dalam
melaksanakan tugasnya. Sehingga ia memiliki wawasan baru terhadap Allah
seiring berjalannya proses tersebut. Melalui proses xtersebut, Ayub yang dahulu hanya
mengetahui Allah dalam sekedar tradisi, kini ia sendiri yang mengalami janjinya
Tuhan.
Dalam kisah
diatas dapat kita ketahui bahwa setiap hal-hal yang baru akan kita dapatkan
melalui proses pembentukan diri kita. Namun manusia memiliki kecenderungan
untuk menetap didalam zona kenyamanannya. Mereka lebih memilih untuk berhenti pada titik yang
dianggap aman, dan sulit untuk meninggalkan hal tersebut,
sehingga tidak bisa mendapatkan wawasan yang baru.Sedangkan
untuk menambah wawasan, manusia butuh keluar dari zona tersebut dan berani
menantang dirinya. Tuhan rindu kita memiliki iman yang dinamis. Iman yang terus bertumbuh
dan berkembang bahkan menghasilkan buah-buah bagi kemuliaan-Nya. Karena itu Ia
mengizinkan proses yang rumit terjadi, supaya pada akhirnya kita beroleh
wawasan baru tentang Allah. Perlu kita pahami bahwa setiap hal
yang diizinkan Tuhan terjadi didalam kehidupan kita, merupakan hal yang sesuai
dengan porsi dan kesanggupan kita masing-masing. Dengan hal tersebut, kita
dapat memahami kehendak
dan kedaulatan Allah atas hidup kita dan melihat kebesaran, keajaiban,
kesetiaan serta kemurahan-Nya
By : Jonathan Eganniel Lase