Ikuti Kami :
Ikuti Kami : :
Alive in Clarity

Surf Over Trouble

Interpretasi Hulu - 16 Februari 2022
Total Dilihat : 85
Bagikan :

Pembaca yang saya kasihi, dalam hidup kita tidak terlepas dari yang namanya masalah dan persoalan, ibarat sebuah kapal di lautan yang luas tentu ada masanya menghadang badai serta angin yang kuat demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mari belajar dari Firman Tuhan bagaimana sikap kita jika saat ini kita mengalami badai tersebut.

Para pembaca yang saya kasihi, jika kita membaca di dalam Firman Tuhan setidaknya ada dua kali peristiwa bagaimana Tuhan Yesus berhadapan dengan badai, yang pertama adalah ketika Tuhan Yesus tertidur di dalam perahu

“Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Guru, Guru, kita binasa!" Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh.”

-Lukas 8 : 23-24


Pada peristiwa ini lagi-lagi kita bisa melihat betapa  besarnya kedaulatan Tuhan, bahwa air dan angin juga tunduk pada kuasa dari perkataan Tuhan. Saudaraku sekalian dalam hidup kita juga sering mengalami badai dan angin ribut kehidupan, masalah datang tanpa memilih dan terkadang masalah yang harus kita hadapi terlalu besar sehingga kita merasa bahwa kapal kehidupan kita bisa sewaktu-waktu karam. Namun demikian, sesuai dengan ayat yang kita baca di atas, Tuhan juga berdaulat terhadap setiap permasalahan dan pergumulan yang kita hadapi. Jika Ia mengizinkan kita mengalami masalah, Ia jugalah yang akan membantu kita untuk melaluinya.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” -Mazmur 37:24


Kedua kalinya Yesus berhadapan dengan badai adalah ketika Ia berjalan di atas air.

Saya kenal seorang hamba Tuhan dari USA yang juga punya hobi berselancar (surfing), beliau pernah menyampaikan kepada saya sekalipun hanya sebuah candaan bahwa ketika Tuhan Yesus berjalan di atas air, Ia tidak berjalan biasa tetapi juga sambil berselancar di antara ombak-ombak besar.

“Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” Matius 14 : 24-25

  

Pernyataan itu memang hanya sekedar candaan, walaupun masuk akal juga sih karena Firman Tuhan berkata bahwa waktu itu sedang ada gelombang besar karena angin sakal, coba bayangkan bagaimana cara  berjalan dengan tenang di antara gelombang-gelombang besar? Bukan tidak mungkin sesekali Tuhan Yesus meluncur di antara gelombang-gelombang tersebut seperti sedang berselancar. Mungkin atau tidaknya saya serahkan pada imajinasi pembaca.

Saya sendiri pernah menghadapai gelombang yang sangat besar ketika sedang berlayar dengan sebuah kapal di daerah Mentawai. Sampai saat ini saya sedikit trauma jika ada gelombang yang besar karena pengalaman itu sangatlah menakutkan. Ketika mengalami itu, sudah tentu saya berdoa agar Tuhan menghentikan angin dan badai itu sehingga laut menjadi tenang sama halnya ketika saya mengalami masalah yang berat dalam hidup, saya ingin seketika itu juga masalah saya bisa Tuhan hilangkan, kenapa ? Karena seperti gelombang saya dan saudara pastinya takut pada masalah dan persoalan tersebut. Memang ada gelombang yang kecil tetapi ada juga gelombang yang mengancam nyawa, demikian hal nya dengan persoalan kehidupan, ada yang sederhana tetapi ada yang menciutkan semangat kita dan setiap orang tentu punya takaran yang berbeda-beda dalam menghadapinya.

Bapak, ibu saudara sekalian pembaca yang saya kasihi, mari sama-sama kita renungkan hal ini :

1.  Pada kali pertama Tuhan Yesus berhadapan dengan badai ( Lukas 8 ) kita baca bahwa murid-murid sangatlah ketakutan ketika badai itu datang, saya membayangkan jika saya menjadi salah satu di antara murid-murid tersebut, tentu saya sama takutnya dengan mereka. Tetapi ketika Yesus menghardik badai itu dan badai tersebut reda, seperti semua murid yang ada di sana saya juga tentunya akan menjadi tenang, tetapi apakah ketakutan saya terhadap badai juga hilang ? Bagaimana jika badai yang lain datang ?

2.     Pada kali kedua Tuhan Yesus berhadapan dengan badai ( Matius 14 : 24-25 ) kita baca sedikit berbeda dari yang pertama, kali ini Tuhan Yesus tidak menghardik badai sehingga badai dan lautan itu menjadi tenang, tetapi kali ini Yesus secara ajaib berjalan di atas badai tersebut. Bukan hanya itu, Firman Tuhan mengatakan bahwa Petrus juga bisa melakukan hal yang sama sekalipun hanya sesaat. Saya percaya di saat itulah murid-murid Yesus tidak akan lagi merasa takut pada badai apapun, karena Tuhan berkuasa bukan hanya untuk menghentikan tetapi Ia juga berkuasa untuk berjalan di atasnya, ketika kaki Yesus menginjak permukaan air tersebut di saat itulah kuasa dari badai tersebut tidak lagi ada. Untuk apa lagi takut terhadap badai jika kita bisa berjalan di atasnya?

Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa sekarang tidak ada lagi alasan untuk kita menjadi takut akan setiap persoalan dan permasalahan yang kita hadapi, karena Tuhan kita berkuasa bukan hanya untuk menghardik badai dan permasalahan yang kita alami tetapi Ia juga telah menginjak setiap permasalahan tersebut dan seperti Tuhan Yesus yang mengajari Petrus untuk berjalan di atas air, saya percaya Tuhan juga ingin mengajari kita untuk berjalan di atas masalah kita, jika perlu tidak hanya berjalan tetapi juga berselancar.

Happy Surfing , and God Bless You All 


By : Yap Hok Gi


Komentar
Berikan Komentar
Belum ada Komentar
Berita Terkait