Ikuti Kami :
Ikuti Kami : :
Alive in Clarity

Perumpamaan Anak yang Hilang

Interpretasi Hulu - 07 Februari 2022
Total Dilihat : 119
Bagikan :

Setiap Kita Punya Proses.

Tak jarang di antara kita sering kali “menjudge” sesama kita. Hal simple yang sering terjadi di dalam komunitas gereja Ketika kita melihat saudara seiman kita yang jarang kelihatan di gereja tiba-tiba aktif kegereja dan ikut serta dalam persekutuan, tanpa sadar kita sering membicarakan orang tersebut tentang masa lalunya. Atau contoh lainnya, saat orang yang selama ini kita lihat aktif dalam kegiatan gereja, tiba-tiba menghilang dan kita pun sering menjudge dia dengan asumsi kita sendiri, contohnya kita sering menganggap orang lain menjauh dari komunitas gereja karena salah pergaulan. Sering kali kita yang tinggal di dalam gereja atau aktif didalam pelayanan merasa diri paling benar, dengan tanpa sadar kita pun adalah anak yang terhilang secara rohani pada saat kita sering melihat hal buruk dari sesama kita.

Seperti perumpamaan anak yang hilang, si bungsu terhilang karena kenikmatan dunia sedangkan si sulung terhilang karena tidak adanya rasa syukur. Kita yang didalam gereja harusnya jadi si sulung yang menikmati setiap berkat tapi terhilang karena tidak adanya rasa syukur, padahal semua sudah Tuhan sediakan untuk keperluan kita jauh sebelum kita meminta, sedangkan si bungsu terhilang karena nikmatnya kegemerlapan dunia merasa dunia yang saaat ini ada dapat memenuhi keinginannya.
Inilah perbedaan proses yang di alami si sulung dan si bungsu untuk kembali kepada Bapa.

Si bungsu sadar akan ketidakmampuannya, keberdosaannya dan kegoisannya sehingga ia mau kembali kepada Bapa untuk meminta pengampunan serta mau menerima konsekuensi yang akan dia terima dari bapa (Lukas 15:17-19). Melihat ini bapa pun tergugah dan mau menerima kembali (Lukas 15:22-24). Proses yang di alami si bungsu memang tidak mudah dimana ia harus merasakan ketidakadilan dunia dan menanggalkan semua kedagingannya untuk bisa kembali kepada Bapa, tapi hasil yang dia terima dari apa yang dia lakukan adalah penerimaan Bapa kembali.

Si sulung pun mengalami proses yang tidak dia sadari sehingga ia menjadi terhilang. Ia tinggal Bersama bapanya tapi tidak pernah sekalipun mengandalkannya, selalu menerima tetapi tidak pernah mengucap syukur, selalu merasa paling benar karena ada di lingkungan yang benar, dan Ketika dia melihat si bungsu pulang ia pun merasa kecewa, karena bapanya yang begitu antusias mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kepulangan anak bungsunya tersebut. Si sulung merasa sudah melakukan  banyak hal untuk bapanya tapi tidak pernah diperlakukan seperti apa yang dilakukan bapanya kepada si bungsu, dan si sulung pun marah terhadap bapanya (Lukas 15:27-30). Melihat hal ini bapanya pun merasa kecewa dengan si sulung karena ia merasa si sulung yang dekat dengan dia harusnya lebih bisa mengerti hati bapanya (Lukas 15:31-32). Seringkali kita seperti si sulung yang menganggap diri kita dekat dengan Tuhan tapi sebenarnya tidak, karena kita belum  mengenal dan mengerti hati Bapa. Orang yang dekat dengan Bapa pasti mengerti isi hati Bapa karena Bapa pasti mencurahkan isi hatinya kepada orang yang dikasihinya.

Dari dua proses ini kita belajar untuk menjadi seperti si sulung yang selalu Bersama Bapa tinggal bersama Bapa dalam keadaan apapun serta mau mengucap syukur selalu serta si Bungsu yang yakin bahwa Proses yang kita alami Tuhan selalu mau menerima kita kembali asalkan kita mau berbalik dari jalan-jalan kita yang salah. Mungkin seringkali di antara kita merasa bahwa yang “salah” adalah si bungsu karena meninggalkan bapa tapi pertobatannya yang membuat bapa bersukacita. Sedangkan si sulung yang menurut kita “benar” tapi pada akhirnya dia yang terhilang karena kekecewaannya.

God Bless



By : Dessy S. Ndruru



Komentar
Berikan Komentar
Belum ada Komentar
Berita Terkait