Setiap Kita Punya Proses.
Tak jarang di antara kita sering kali “menjudge” sesama kita. Hal simple yang
sering terjadi di dalam komunitas gereja Ketika kita melihat saudara seiman
kita yang jarang kelihatan di gereja tiba-tiba aktif kegereja dan ikut serta dalam persekutuan,
tanpa sadar kita sering membicarakan orang tersebut tentang masa lalunya. Atau
contoh lainnya, saat orang yang selama ini kita lihat aktif dalam kegiatan
gereja, tiba-tiba menghilang dan kita pun sering menjudge dia dengan asumsi kita
sendiri, contohnya kita sering menganggap orang lain menjauh dari komunitas
gereja karena salah pergaulan. Sering kali kita yang tinggal di dalam gereja atau
aktif didalam pelayanan merasa diri paling benar, dengan tanpa sadar kita pun
adalah anak yang terhilang secara rohani pada saat kita sering melihat hal buruk
dari sesama kita.
Seperti perumpamaan anak yang hilang, si
bungsu terhilang karena kenikmatan dunia sedangkan si sulung terhilang karena
tidak adanya rasa syukur. Kita yang didalam gereja harusnya jadi si sulung yang
menikmati setiap berkat tapi terhilang karena tidak adanya rasa syukur, padahal
semua sudah Tuhan sediakan untuk keperluan kita jauh sebelum kita meminta,
sedangkan si bungsu terhilang karena nikmatnya kegemerlapan dunia merasa dunia yang
saaat ini ada dapat memenuhi keinginannya.
Inilah perbedaan proses yang di alami si sulung dan si bungsu untuk kembali
kepada Bapa.
Si bungsu sadar akan ketidakmampuannya, keberdosaannya dan kegoisannya sehingga
ia mau kembali kepada Bapa untuk meminta pengampunan serta mau menerima
konsekuensi yang akan dia terima dari bapa (Lukas 15:17-19). Melihat ini bapa pun
tergugah dan mau menerima kembali (Lukas 15:22-24). Proses yang di alami si
bungsu memang tidak mudah dimana ia harus merasakan ketidakadilan dunia dan
menanggalkan semua kedagingannya untuk bisa kembali kepada Bapa, tapi hasil yang
dia terima dari apa yang dia lakukan adalah penerimaan Bapa kembali.
Si sulung pun mengalami proses yang tidak dia sadari sehingga ia menjadi
terhilang. Ia tinggal Bersama bapanya tapi tidak pernah sekalipun
mengandalkannya, selalu menerima tetapi tidak pernah mengucap syukur, selalu
merasa paling benar karena ada di lingkungan yang benar, dan Ketika dia melihat si
bungsu pulang ia pun merasa kecewa, karena bapanya yang begitu antusias
mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kepulangan anak bungsunya
tersebut. Si sulung merasa sudah melakukan
banyak hal untuk bapanya tapi tidak pernah diperlakukan seperti apa yang
dilakukan bapanya kepada si bungsu, dan si sulung pun marah terhadap bapanya (Lukas
15:27-30). Melihat hal ini bapanya pun merasa kecewa dengan si sulung karena ia
merasa si sulung yang dekat dengan dia harusnya lebih bisa mengerti hati bapanya
(Lukas 15:31-32). Seringkali kita seperti si sulung yang menganggap diri kita
dekat dengan Tuhan tapi sebenarnya tidak, karena kita belum mengenal dan mengerti hati Bapa. Orang yang
dekat dengan Bapa pasti mengerti isi hati Bapa karena Bapa pasti mencurahkan isi
hatinya kepada orang yang dikasihinya.
Dari dua proses ini kita belajar untuk menjadi seperti si sulung yang selalu
Bersama Bapa tinggal bersama Bapa dalam keadaan apapun serta mau mengucap
syukur selalu serta si Bungsu yang yakin bahwa Proses yang kita alami Tuhan selalu
mau menerima kita kembali asalkan kita mau berbalik dari jalan-jalan kita yang salah.
Mungkin seringkali di antara kita merasa bahwa yang “salah” adalah si bungsu
karena meninggalkan bapa tapi pertobatannya yang membuat bapa bersukacita.
Sedangkan si sulung yang menurut kita “benar” tapi pada akhirnya dia yang terhilang
karena kekecewaannya.
God Bless
By : Dessy S. Ndruru