Seorang anak muda terlambat bangun. Otomatis
dia terburu-buru saat berangkat menemui dosen. Dengan kecepatan tinggi, anak
muda tersebut ngebut dijalan. Tapi sayang, tiba-tiba saja, Polisi datang
menemuinya. Anak muda tersebut kena tilang. Karena tidak ada surat-suratnya, maka
motor nya ditahan polisi.
Anak
muda tersebut berusaha meyakinkan polisi bahwa suratnya ketinggalan, bahkan ia
menyalahkan temannya karena tidak mengembalikan tas miliknya karena surat -suratnya berada dalam tas tersebut. Dalam situasi tersebut anak muda itu masih
juga menyalahkan orang lain.
Manusia
selalu mencari alasan untuk membenarkan diri. Sebagai generasi muda gereja,
kita pun seringkali bersikap seperti anak muda tersebut, sukanya melemparkan
kesalahan. Kita mengkambinghitamkan orang lain dikala kita disalahkan. Padahal
kalo dipikir-pikir tidak ada hubungannya antara polisi dan teman si anak muda
tersebut. Yang jelas, itu kesalahan dari anak muda sendiri karena terlambat
bangun dan lalai dalam hal-hal penting.
Bukankah kita sering seperti itu, berusaha membenarkan
diri saat telah melakukan kesalahan, lalu mencari obyek yang dapat
dipersalahkan? Kita sering menyalahkan orang tua, teman, jalan macet, dan lain
sebagainya, padahal tidak ada kaitannya dengan kesalahan yang kita buat. Bahkan
tidak sedikit pula anak anak yang
terlibat pelayanan mengkambinghitamkan jadwal kerja atau tugas kuliah sehingga menolak
untuk pelayanan.
Hal
yang sama dilakukan oleh Adam dan Hawa. Ketika Tuhan menanyakan mengapa
mereka memakan buah terlarang, mereka justru saling melemparkan kesalahan.
Kejadian 3: 11-13.
Firmannya : ‘siapakah yang memberitahukan kepada mu, bahwa engaku
telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang kularang engkau makan
itu,” manusia itu menjawab: “perempuan yang yang kautempatkan di sisiku, dialah
yang memberikan dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian
berfimanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu: “ Apakah yang telah kauperbuat
ini?” Jawab perempuan itu : “Ular itu yang memperdayakan aku, maka ku makan.”
Kita pun cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan
yang tidak ada hubungannya dengan kesalahan kita. Mungkin sesekali kita
berhasil menghindar dengan mengkambinghitamkan hal-hal yang lain, dilain waktu
Tuhan akan mengajar kita dengan hal serupa sampai kita benar-benar secara
terbuka mengakui kesalahan kita. Karena itu.
“Belajarlah bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat!
Memang berat , tapi semua itu untuk kebaikan kita dihadapan Tuhan”
Cerita anak muda diatas merupakan cerita nyata yang
dialami penulis renungan hari ini.
Tetap jaga kesehatan ya, Tuhan Yesus
memberkati.
By. Karis larosa