Ikuti Kami :
Ikuti Kami : :
Alive in Clarity

Melempar Kesalahan

Interpretasi Hulu - 29 Maret 2022
Total Dilihat : 62
Bagikan :

Seorang anak muda terlambat bangun. Otomatis dia terburu-buru saat berangkat menemui dosen. Dengan kecepatan tinggi, anak muda tersebut ngebut dijalan. Tapi sayang, tiba-tiba saja, Polisi datang menemuinya. Anak muda tersebut kena tilang. Karena tidak ada surat-suratnya, maka motor nya ditahan polisi.

Anak muda tersebut berusaha meyakinkan polisi bahwa suratnya ketinggalan, bahkan ia menyalahkan temannya karena tidak mengembalikan tas miliknya karena surat -suratnya berada dalam tas tersebut. Dalam situasi tersebut anak muda itu masih juga menyalahkan orang lain.

Manusia selalu mencari alasan untuk membenarkan diri. Sebagai generasi muda gereja, kita pun seringkali bersikap seperti anak muda tersebut, sukanya melemparkan kesalahan. Kita mengkambinghitamkan orang lain dikala kita disalahkan. Padahal kalo dipikir-pikir tidak ada hubungannya antara polisi dan teman si anak muda tersebut. Yang jelas, itu kesalahan dari anak muda sendiri karena terlambat bangun dan lalai dalam hal-hal penting.

Bukankah kita sering seperti itu, berusaha membenarkan diri saat telah melakukan kesalahan, lalu mencari obyek yang dapat dipersalahkan? Kita sering menyalahkan orang tua, teman, jalan macet, dan lain sebagainya, padahal tidak ada kaitannya dengan kesalahan yang kita buat. Bahkan tidak sedikit pula anak anak  yang terlibat pelayanan mengkambinghitamkan jadwal kerja atau tugas kuliah sehingga menolak untuk pelayanan.

Hal yang sama dilakukan oleh Adam dan Hawa. Ketika Tuhan menanyakan mengapa  mereka memakan buah terlarang, mereka justru saling melemparkan kesalahan.

 Kejadian 3: 11-13.

Firmannya : ‘siapakah yang memberitahukan kepada mu, bahwa engaku telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang kularang engkau makan itu,” manusia itu menjawab: “perempuan yang yang kautempatkan di sisiku, dialah yang memberikan dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfimanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu: “ Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu : “Ular itu yang memperdayakan aku, maka ku makan.”

Kita pun cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan yang tidak ada hubungannya dengan kesalahan kita. Mungkin sesekali kita berhasil menghindar dengan mengkambinghitamkan hal-hal yang lain, dilain waktu Tuhan akan mengajar kita dengan hal serupa sampai  kita benar-benar secara terbuka mengakui kesalahan kita. Karena itu.

 

“Belajarlah bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat! Memang berat , tapi semua itu untuk kebaikan kita dihadapan Tuhan”

 

Cerita  anak muda diatas merupakan cerita nyata yang dialami penulis renungan hari ini.

Tetap jaga kesehatan ya, Tuhan Yesus memberkati.

 

By. Karis larosa


Komentar
Berikan Komentar
Belum ada Komentar
Berita Terkait