Ikuti Kami :
Ikuti Kami : :
Alive in Clarity

KENDALIKAN AMARAHMU

Interpretasi Hulu - 13 September 2022
Total Dilihat : 60
Bagikan :

Amsal 20:1-15

Kehidupan kita selama kita berada dalam suatu keluarga, lingkungan atau dimana saja kita berada kadang amarah atau emosi kita selalu ada apa bila yang kira alami itu tidak sesuai dengan apa yang kita alami.

Kemarahan adalah bagian dari emosi manusia yang sangatlah wajar dan normal.  Namun, selayaknya api yang berpotensi mencelakakan jika berlebihan, demikianlah kemarahan yang tak jarang mendatangkan akibat buruk bila tidak dikendalikan dengan benar. Pertengkaran dan perselisihan yang tak kunjung usai sering kali dimulai dari luapan kemarahan yang tak terkendali, terutama kemarahan yang bisa timbul dalam hati manusia. Kemarahan yang melebihi batas adalah  sebagai karakteristik orang bodoh. Saat berbicara mengenai orang bodoh maupun kebodohan, Kitab Amsal memang tidak pernah melekatkannya pada diri seseorang, melainkan  disini bagaimana kita mengambil keputusan yang bijak atau tidak bijak ataupun seseorang yang kehilangan kendali atas tingkah lakunya.

Ada perbandingan antara orang bodoh dengan orang yang berhasil menjauhi perbantahan/ pertengkaran sebagai orang terhormat. Perbuatan yang telah dilakukan pada akhirnya turut menentukan bagaimana sikap seseorang, atau paling tidak bagaimana orang lain mengenalnya. 

Menarik untuk melihat bahwa kemarahan tidak selalu dilihat secara negatif. Salah satunya adalah murka dari seorang raja. Sebab, raja dipandang sebagai sosok yang adil dan mengadili perkara dengan bijak. Di hadapan raja, orang yang baik mendapatkan ketenangan, sementara orang yang melakukan kejahatan haruslah gentar. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa kemarahan raja itu muncul saat ia melihat sesuatu yang tidak benar terjadi di hadapannya. Raja marah karena melihat ketidakadilan yang terjadi.

Alkitab tidak melarang kemarahan sejauh itu terkendali dan berlandaskan alasan yang tepat. Pada akhirnya, kita tetap harus waspada dan meningkatkan pengendalian diri agar jangan sampai kemarahan yang timbul dalam hati kita justru berbalik menjadi malapetaka. Maka dari itu, marilah kita bersandar pada hikmat dan tuntunan Allah semata.


By : Yustina Gea


Komentar
Berikan Komentar
Belum ada Komentar
Berita Terkait