|
K |
ita mungkin pernah merasa kecewa pada keadaan
atau kepada manusia, tetapi apakah kita juga pernah merasa kecewa pada Tuhan?
Hari ini mari kita belajar pada salah satu cerita
tentang itu.
Pada tahun 1921 ada pasangan misionaris bernama
David dan Svea Flood yang melayani Tuhan di ladang misi di Afrika, sekarang
daerah Zaire.
Singkat cerita mereka mengalami kesulitan dan
penolakan dari suku setempat. Beberapa tahun melayani mereka hanya berhasil
melayani seorang anak kecil di daerah itu. Anak pertama mereka yang berusia 3
tahun terserang malaria dan sang istri, Svea yang tengah mengandung anak kedua
mereka juga terserang malaria dan meninggal tak lama setelah melahirkan.
Setelah sang istri meninggal, David Flood
mengalami kekecewaan yang mendalam pada Tuhan dan kembali ke Swedia,
meninggalkan anak perempuannya, Aina, yang baru lahir kepada pasangan
misionaris lain di sana.
Berpuluh tahun kemudian sang anak mencari tahu
tentang orangtua kandungnya. Dalam perjalanan ke London, dia dan sang suami
melihat ada pertemuan penginjil dan mendengarkan seorang pengkhotbah dari Zaire
yang mengatakan bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire.
Pengkhotbah itu ternyata adalah anak kecil yang dilayani oleh orangtuanya di
Zaire. Ia tumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya. Saat itu
sudah ada 110,000 orang Kristen di Zaire, 32 pos penginjilan, beberapa sekolah
penginjilan dan sebuah Rumah Sakit.
Aina ( juga dipanggil Aggie) dan sang suami
melanjutkan perjalanan dan akhirnya bertemu dengan ayahnya dalam sebuah rumah
yang penuh bau alkohol di Swedia. Ayahnya yang berumur 73 tahun menderita
diabetes, stroke dan katarak duduk di tepi ranjang. Aggie memeluk ayahnya dan
berkata bahwa dialah anaknya yang ditinggalkan di Afrika. Mereka berdua
menangis, sang ayah mengatakan bahwa dia tidak bermaksud membuangnya. Aggie
menjawab bahwa dia tidak apa-apa karena Tuhan menjaganya. Seketika wajah
ayahnya berubah, dia mengatakan bahwa Tuhan tidak menjaga mereka, melainkan
membuang dan meninggalkan mereka dulu di Afrika tanpa hasil.
Aggie akhirnya menceritakan tentang penginjil dari
Zaire yang ditemui di London dan bagaimana Tuhan bekerja di Zaire melalui
tangan anak kecil yang mereka layani dahulu. Akhirnya Roh Kudus menjamah hati
ayahnya, dan mengangkat kekecewaannya pada Tuhan. Tak lama setelah itu ayahnya
meninggal dalam damai.
Kadang apa yang kita lihat dan percayai adalah
bagian kecil dari rencana Tuhan yang begitu besar, siapakah kita sehingga
mengetahui isi hati Tuhan. Mungkin Tuhan sedang bekerja melalui kekecewaan
kita. Apa yang kita tabur untuk Tuhan, jika kita melihat sepertinya sia - sia
dan tidak ada hasilnya, jangan kecewa
pada Tuhan karena apa yang terlihat. Tuhan tidak berhenti mengerjakan apa
yang tidak terlihat dan Dia tahu kapan waktu terbaik untuk menuai buah dari
benih - benih itu.
“ Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum
tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia
mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”(Yohanes 12:24)
“ Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai
dengan bersorak - sorai.“
(Mazmur 126:5)
By : Lo Rika Rosandy