Ikuti Kami :
Ikuti Kami : :
Alive in Clarity

Jangan Pernah Kecawa Dalam Melayani Tuhan

Interpretasi Hulu - 17 Mei 2022
Total Dilihat : 84
Bagikan :

Setelah Ahab menyaksikan mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Elia di Gunung Karmel, ia pergi untuk memberitahukan ratu Izebel. Setelah Izebel mengetahui bahwa Elia telah membunuh nabi-nabi Baal, ia menjadi sangat marah. Ia mengirimkan suruhan untuk memberitahukan Elia bahwa ia akan mengambil nyawanya. Kelemahan Raja Ahab adalah ia tidak tegas, ia membiarkan istrinya memerintahnya. Izebel menganggap Baal sebagai allah, sehingga ia mengikut Baal dengan sepenuh hatinya, oleh sebab itu dia ingin membunuh nabi Elia

Raja Ahab adalah seseorang yang bercabang hati. Ia percaya Yahweh (Allah Israel adalah Tuhan sesungguhnya), namun ia juga ragu untuk melepaskan Baal. Sehingga ia menjadi bimbang dan ragu-ragu. Ketika ratu memerintahkan untuk membunuh Elia, Raja Ahab tidak mencegahnya. Ia antara setuju dengan apa yang dikatakan ratu Izebel atau tidak memiliki kuasa untuk mencegah keputusan Izebel.

1 Raja-Raja 19:3-4 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya:”Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

Mengapa Elia sangat takut kepada Izebel? Jika ia dapat bersandar kepada Allah untuk mengalahkan beberapa ratus nabi palsu baal, harusnya hanya satu Izebel tidak berarti apa-apa baginya! Mengapa ia tidak bersandar kepada Allah untuk menumpas Izebel?

Sebenarnya Elia pergi menyelamatkan nyawanya bukan karena ia takut akan kematian. Karena ayat 4 memberitahukan kita kalau Elia memohon kepada Allah untuk mengambil nyawanya. Jadi kita dapat melihat kalau Elia bukannya takut mati karena seseorang yang takut mati tidak akan memohon untuk diambil nyawanya. Dan Elia bukanlah seseorang yang takut mati, karena saat menghadapi ratusan nabi-nabi baal resikonya adalah kematian. Elia melarikan diri dari Israel karena ia lebih baik mati ditangan Tuhan daripada mati ditangan penyembah berhala, namun ia juga sangat kecewa dengan respon dari Raja Ahab dan bangsa Israel yang tidak menyembah Allah yang telah nyata-nyata melakukan mujizat saat mengalahkan ratusan nabi-nabi baal di gunung Karmel .

Jadi, kita dapat melihat bahwa bahkan hamba Allah yang besar pun ada kalanya menjadi KECEWA. Jangan berpikir kalau hamba Allah akan selalu menyelesaikan hal-hal dengan lancar dan tidak pernah menghadapi kesulitan apapun. Elia sangatlah setia kepada Allah dan ia juga melayani Israel dengan segenap hati dan pikirannya. Tetapi reaksi bangsa Israel terhadap Allah masih tetap bercabang hati, tidak dingin dan tidak panas. Kemudian Izebel memerintahkan untuk membunuh Elia, tetapi Ahad(raja Israel) tidak menghentikannya. Jadi masa depan apa yang dimilik oleh Israel? Tidak hanya itu, kesabaran Allah juga terlihat seperti tiada akhirnya, apakah itu berarti Allah mengizinkan bangsa Israel berbalik untuk mengikut Baal? Semakin Elia memikirkannya, semakin patah semangat Elia. Ia merasa ia telah menyia-nyiakan hidupnya, segala yang telah dilakukannya sia-sia menjadi nabi Tuhan bagi bangsa Israel. Jadi ia berdoa kepada Allah untuk mengambil nyawanya.

Jika Anda seorang hamba Allah yang setia, Anda dapat mengalami apa yang nabi Elia rasakan. Seringkali ketika Anda melakukan pekerjaan Allah dengan segenap hati dan pikiran Anda, tetapi kemudian Anda tidak melihat adanya hasil. Orang lain tidak menghargai apa yang telah Anda lakukan. Dan Allah juga sepertinya tidak memberkati apa yang telah Anda lakukan. Anda tidak dapat menghindar dari berpikir apa arti dari semua hal yang telah Anda lakukan. Mungkin akan lebih baik untuk melupakan pekerjaan Allah dan memikirkan pekerjaan sekuler saja tanpa harus terlibat pelayanan lagi. Elia tidak mengerti apa yang Allah sedang kerjakan dan ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melanjutkan apa yang sedang ia lakukan, sehingga ia pergi untuk mati di padang gurun. Bagaimana respon Allah terhadapnya? Mari kita baca ayat 5-7:

1 Raja-Raja 19:5-7 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba- tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya:”Bangunlah, makanlah!” Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata:”Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.”

Setelah berdoa, Elia yang secara fisik dan mental telah kelelahan tertidur di bawah sebuah pohon di padang gurun. Allah tidak menegur Elia karena telah melarikan menurut kehendaknya sendiri, melainkan Allah kuatir tentang kebutuhan-kebutuhan Elia. Ia mengirimkan suruhan untuk menyediakan air dan roti bakar untuk Elia. Malaikat membangunkan Elia, ia makan dan minum, kemudian ia tertidur kembali. Kita dapat membayangkan bagaimana depresinya hati Elia.

Setelah beberapa lama, malaikat Allah datang untuk membangunkan Elia untuk kedua kalinya. Kali ini, suruhan Allah secara khusus menginstruksikannya, “Bangun, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.” Kalimat “perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu” memiliki dua arti. Hal itu dapat berarti perjalanan ke Gunung Horeb sangatlah panjang. Atau hal itu dapat berarti kalau jalan untuk melayani belumlah berakhir bagi Elia, karena Allah tidak mengijinkannya untuk mati.

Elia adalah hamba Allah. Hidupnya adalah milik Allah. Ia tidak dapat meminta untuk mati atas dasar keinginannya sendiri. Apa yang telah dilakukan Elia di Gunung Karmel terlihat seperti sia-sia tetapi Allah memiliki rencana-Nya sendiri. Tanggung jawab dari hamba/pelayan Tuhan adalah untuk melakukan sesuai dengan rencana Allah. Meskipun pelayanan yang dilakukan seakan seperti sia-sia, tapi penilaian dari Tuhan bukan apa yang dilihat manusia.

TETAPLAH SETIA...
God Bless!


By : Nur Indah Agustini Farasi


Komentar
Berikan Komentar
Belum ada Komentar
Berita Terkait