Kejadian 4:1-12
Amsal 14:30 ;“Hati yang tenang menyegarkan tubuh tetapi iri hati membusukkan tulang.”
Ketika dunia
sudah jatuh dalam dosa, kita pasti mengalami yang namanya dukacita atas
dosa-dosa kita. Namun dari mana semua dosa-dosa itu timbul? Dosa timbul dari
dalam hati kita. Meskipun kita mengalami situasi yang baik-baik saja, dosa bisa
saja menggerogoti kita tanpa sadar. Dan dosa yang paling sering kita alami
adalah kecenderungan iri hati, maka melalui renungan kali ini saya ingin
berbagi pergumulan tentang melawan dosa iri hati & saling mengingatkan
antara satu sama lain melalui renungan ini.
Mari kita membaca
sejenak tentang kisah Kain & Habel : Kain dan Habel sedang mempersembahkan
korban. Ketika mereka selesai melakukannya, korban Habel diterima Allah &
korban Kain tidak (Alkitab tidak menjelaskan sebabnya, tapi yang pasti Alkitab
mencatat bahwa Kain panas hatinya). Kain pun iri kepada adiknya, tidak
bersukacita ketika orang lain lebih baik darinya. Ini pasti sering kita rasakan
ya? Lalu kita lihat, apa yang Tuhan firmankan pada Kain? Kain harus berkuasa
atas dosa yang sudah mengintip di ambang pintu hatinya. Namun sangat
disayangkan, Kain memilih untuk melampiaskan iri hati dan panas hatinya
sehingga akhirnya dosa iri hati itu berakhir dengan pembunuhan Habel. Allah
tahu bahwa manusia sudah jatuh dalam dosa, namun Kain tidak mengindahkan
peringatan Allah dan lebih memilih melampiaskan iri hatinya.
Iri hati sering
terjadi ketika kita tidak bisa mencapai atau tidak bisa memiliki apa yang orang
lain capai/miliki. Iri hati hanya membuat kita terlihat lemah dan sikap yang
menunjukkan bahwa kita tidak bisa lebih baik untuk mencapai segala sesuatu. Hal
ini juga sering sekali terjadi dalam dunia pelayanan kita kepada Tuhan. Iri
hati dalam pelayanan adalah hal yang tidak perlu, apalagi ketika seseorang
memiliki jabatan tinggi dalam pelayanan. Itu semua hanya membuat hati kita
menjadi kepahitan terhadap sesama, dan kita tidak lagi melakukan pelayanan
dengan hati yang sukacita oleh karena perkara iri hati tersebut. Ketika iri
hati muncul, bagaimana seharusnya kita bersikap? Kita ingat peringatan Allah
pada Kain. Jangan menuruti iri hatimu. Minta pertolongan Allah untuk menguasai
HATI KITA dan percaya bahwa Allah sudah memberikan berkat pada tiap—tiap kita
dengan sangat adil dan sesuai kebutuhan kita. Belajar bersedih ketika orang
lain bersedih dan belajar bersukacita ketika orang lain bersukacita.
“Jangan beri ruang bagi iri hati untuk
tinggal dalam kamu, ia hanya bisa merusak & merenggut sukacita kehidupanmu.
Ada banyak hal yang selalu bisa kita syukuri dalam hidup, sebab Tuhan selalu
memberi berkat anugerah yang terbaik bagi setiap kita.”
Amin. Tuhan Yesus memberkati.
By : Evelyn Halim