Efesus 4:13-15
Begitu
mudah bagi kita untuk berkata bahwa Tuhan itu baik ketika semuanya dalam
keadaan baik dan sesuai dengan harapan kita, tetapi apakah mudah untuk kita
mengatakan Tuhan itu baik saat kita dihadapkan dengan kenyataan: doa-doa kita
belum dijawab, sekarang ini kita sedang menghadapi pergumulan, dan apa yang
kita peroleh saat ini tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, dan
lain-lain.
Banyak
orang percaya tidak menyadari kebaikan Tuhan ditengah badai kehidupannya.
Mereka hanya menyadarinya ketika Tuhan melakukan mujizat. Mereka tidak pernah
menyadari mujizat bukan hanya jawaban doa saja, tetapi pemeliharaan dan proses
pembentukan Tuhan dalam kehidupan mereka adalah mujizat bagi kita. Kadang kala
iman percaya kita harus dibuktikan, dan pembuktian itu bukan dengan kenyamanan
tetapi dengan 'masalah'.
Tetapi yang
menjadi permasalahannya adalah: saat
badai/masalah itu datang di dalam hidup kita; kita justru berusaha
menyelesaikan dengan "cara dan waktu kita" tanpa menyertakan Tuhan,
sehingga kita sering merasa tertekan dan berakhir dalam kekecewaan.
Coba kita
perhatikan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka ini tidak akan menjadi
'kesaksian' jika mereka tidak pernah di jebloskan ke dalam api (Daniel 3:1-27).
Justru dengan dijebloskan ke dalam apilah yang membuat nama Tuhan semakin
ditinggikan melalui kehidupan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.
Bagaimana
kuasa Allah bisa dinyatakan jika tanpa adanya 'kesaksian', dan bagaimana orang
akan melihat iman yang berdiri atas dasar kemustahilan jika kita menolak
pembentukan Allah atas diri kita melalui 'masalah'. Semuanya itu hanya bisa
dilalui jika kita menyatu dengan Allah dan mengenal Dia dengan benar. Tanpa
pengenalan yang benar tentang Dia, kita pasti akan merasa diperlakukan 'tidak
adil'.
Oleh sebab
itu kejarlah pengenalan akan Dia dengan benar, niscaya iman kita akan menjadi
iman yang tahan uji dan tahan api. Amin.
By : Fanny August Ginting