Ikuti Kami :
Ikuti Kami : :
Alive in Clarity

Cara Tuhan Merubah Kita

Interpretasi Hulu - 21 Oktober 2021
Total Dilihat : 100
Bagikan :

Kejadian 32:22 - 26, 30


22 Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. 23 Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya.  24 Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. 25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 26 Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.

30 Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!"


Nama Yakub bisa berarti "penipu" atau "perampok," dan dia hidup sesuai dengan namanya. Dia manipulatif, penipu, dan agresif — bukan seseorang yang ingin kita ketemui dimana saja. Yakub adalah orang yang sangat bermasalah. Dia selalu mendapat masalah, atau sepertinya akan membuat lebih banyak masalah lagi


Kisah Yakub begitu lumrah yang mungkin sering kita dengar dan lihat bahkan alami. Sepanjang hidupnya, Yakub keras kepala dan tidak mau mempercayai siapa pun — bahkan Tuhan. Di sungai Yabok itulah akhirnya Yakub “dihancurkan” oleh Tuhan dan diubah secara radikal. Dia diberi nama baru dan kebebasan baru untuk hidup seperti yang Tuhan maksudkan semula. Namun, semua ini terjadi dengan ada harga yang harus dibayar, yaitu pincang permanen yang membuatnya tidak berdaya dan tidak putus asa untuk berpegang teguh pada Tuhan. Dan dari posisi ketergantungan yang lemah inilah Yakub dijadikan bangsa (Israel) yang akan memberkati dunia.


Dengan cara yang sama, Tuhan terkadang “melukai” (dalam artian positif) kita dalam perjalanan kita bersama-Nya untuk mengeluarkan kita dari kehidupan kerohanian kita yang tidak sehat ke kerohanian yang benar-benar mengubahkan kita dari dalam ke luar. Ketika luka-luka ini datang, kita mungkin menyangkalnya, menutupinya, marah kepada Tuhan, menyalahkan orang lain, atau seperti Yakub, kita dapat berserah dan berpegang teguh pada Tuhan.


Pilihan ada ditangan kita! Apakah kita tetap mengeraskan hati atau dengan kerelaan ikut prosesnya Tuhan?

Tuhan berkati.



By : Ps. Daud Pramana


Komentar
Berikan Komentar
Belum ada Komentar
Berita Terkait