|
J |
ika dilihat dari standar
hidup beriman yang benar, tidak bisa dibantah betapa sedikitnya orang yang
sungguh-sungguh telah berkategori sebagai orang percaya. Sebagai buktinya,
banyak orang Kristen yang kehidupannya tidak berbeda sama sekali dengan orang yang
tidak percaya. Sampai akhirnya sulit membedakan apakah seseorang itu orang
percaya atau bukan. Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan Abraham yang
diyakini sebagai bapa orang percaya. Gaya hidupnya sangatlah berbeda dengan
manusia di sekitarnya pada zamannya. Dengan menerima panggilan sebagai orang
beriman dan bapa orang percaya yang keturunannya akan menjadi berkat bagi semua
bangsa di bumi, maka hidupnya habis disita atau berakhir dalam rencana Allah.
Hidup Abraham itulah yang seharusnya menjadi pola dengan mana orang percaya
Perjanjian Baru meneladani dan membangun dirinya. Jika pola kehidupan Abraham
tidak dimiliki oleh mereka yang mengaku percaya (orang Kristen), maka berarti
sesungguhnya mereka belum beriman atau belum menjadi orang percaya yang benar.
Dengan menerima panggilan
istimewa dari Tuhan, Abraham harus membayar panggilannya dengan segenap hidup.
Hidupnya beresiko. Tetapi sebenarnya orang-orang di Urkasdim yang tidak
mengikuti jejak Abraham pun hidupnya juga beresiko. Harus dicatat bahwa tidak
ada kehidupan manusia yang tidak beresiko. Hal ini sama dengan kehidupan
manusia hari ini, apakah seseorang mau mengikuti panggilan mengikut Tuhan Yesus
dengan sungguh atau tidak, pasti tetap beresiko. Mengapa kita tidak lebih
memilih dan berani mengambil resiko dalam kehidupan yang beriman kepada Tuhan? Salahnya,
banyak orang tidak memilih mengambil resiko mengikut jalan Tuhan dalam
keberimanan yang benar kepada Tuhan. Sebesar apa pun resiko dari kehidupan
seseorang yang beriman, tidak ada artinya dibanding dengan kemuliaan yang akan
diperoleh ketika perjalanan hidupnya berakhir. Memahami hal ini seharusnya
kita tidak ragu-ragu sama sekali untuk mempertaruhkan hidup kita tanpa batas
bagi pengiringan kita kepada Tuhan. Semua yang kita pertaruhkan dan kita
korbankan bagi Tuhan ada perhitungannya di kemudian hari.
Tuhan dapat mengenali dan
membedakan apakah seseorang memilih Dia sebagai pilihannya atau bukan. Mereka
yang memilih Tuhan sebagai pilihannya pasti berani meninggalkan segala sesuatu,
artinya tidak menghargai apa pun demi kepentingan bisa mengenal Tuhan dan
melakukan kehendak-Nya. Hal ini ditunjukkan dalam pilihan-pilihannya dalam
penggunaan waktu setiap hari. Apakah bersedia menyisihkan atau menyediakan
waktu belajar kebenaran Firman Tuhan, berdoa, pergi ke pendalaman Alkitab. Hal
tersebut juga ditunjukkan dalam penggunaan harta kekayaannya. Apakah untuk
kesenangan diri sendiri, prestise, harga diri atau pelayanan pekerjaan Tuhan.
Banyak orang tidak menyadari bahwa Tuhan menguji apakah jalan hidup kita
serong. Serong di sini sama dengan menyimpang, sama pula dengan ketidaksetiaan
atau pengkhianatan. Kalau seseorang masih memandang bahwa dunia dapat
menandingi atau mengimbangi ketenangan, kenyamanan, keamanan dan kebahagiaan
dari Tuhan, berarti sebuah pelecehan terhadap kebesaran Tuhan. Orang yang masih
dalam keadaan ini pasti masih sangat mudah melakukan pelanggaran atau dosa dan melakukan
pengkhianatan terhadap Tuhan.
Sebab aku yakin, bahwa
penderitaan zaman sekarang ini 1 tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan
dinyatakan kepada kita Roma 8:18
Tuhan Memberkati, Amin