“Jadi,
jika aku benar-benar bersalah dan berbuat sesuatu kejahatan yang setimpal
dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu
terhadap aku ternyata tidak benar, tidak ada seorangpun yang berhak menyerahkan
aku sebagai suatu anugerah kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!”
Kisah Para Rasul 25:11
Dalam pelayanan Paulus dalam menyebarkan kebenaran Firman-Nya, banyak sekali pencobaan yang ia alami dan lalui. Namun, pencobaan-pencobaan tersebut tidak dijadikannya sebagai alasan untuk menyangkal Tuhan, dan berhenti memberitakan kebenaran.
Banyak
sekali orang yang tahu dan yakin akan kebenaran, namun tidak semua orang mampu
mengambil keputusan yang tepat atas kebenaran tersebut. Seperti halnya Feliks
dan Festus dalam kisah Paulus tersebut, dimana mereka tidak mampu memberikan
putusan yang tepat terhadap tuduhan-tuduhan yang dilontarkan orang Yahudi
kepada Paulus. Ia lebih memilih untuk mengikuti kemauan orang Yahudi, agar ia
disenangi dan tidak dibenci.
Lain
halnya dengan Paulus, walaupun ia dituduh oleh hal-hal yang tidak ia lakukan,
ia tetap bersabar dan teguh dengan kebenaran. Ia tidak menghakimi orang-orang
Yahudi yang menuduhnya, namun ia juga tidak berlaku pasrah. Ia yakin apa yang ia
lakukan itu adalah hal benar, untuk itu jika ia terbukti tidak bersalah, maka ia
tidak bersedia untuk dijadikan sebuah anugerah kepada orang Yahudi untuk
dihukum mati. Paulus tetap mengusahakan hak-haknya, tanpa menjatuhi orang lain.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah mengalami hal yang dialami oleh
Paulus, yaitu dituduh melakukan hal-hal yang tidak kita lakukan. Namun
pertanyaannya adalah, bagaimana reaksi kita atau sikap kita dalam menyikapi hal
tersebut? Apakah kita akan melontarkan tuduhan demi tuduhan juga kepada orang
tersebut? Apakah kita akan marah-marah? Atau kita akan berusaha, berdoa, dan
berserah kepada-Nya?
Sikap
Paulus dalam menyikapi hal tersebut patut kita teladani. Ia tidak hanya berdoa
dan berdiam diri saja, namun ia tetap mengusahakan apa yang bisa ia lakukan, dengan
mengajukan banding kepada Kaisar. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita
jarang sekali sampai di titik mengajukan banding, namun kita bisa membuktikan
kebenaran dengan fakta-fakta yang nyata, dan tidak menjatuhkan orang lain demi
membela diri.
Jika
ya, katakan ya, jika tidak, katakan tidak. Kebenaran adalah kebenaran, dan
kebohongan tidak akan pernah menjadi kebenaran.
Tuhan
Yesus Memberkati.
By : Felicia Amanda Lase