Seperti anak – anak panah di tangan Pahlawan, demikianlah anak –
anak pada masa muda.
Mzm 127:4
Saya pernah
membaca sebuah berita tentang dua orang anak di Jepang yang tertukar di Rumah
Sakit setelah dilahirkan. Anak sebuah keluarga kaya harus dibesarkan oleh
keluarga dengan seorang ibu tunggal, sementara anak kandung ibu tunggal itu
dibesarkan oleh keluarga kaya tadi. Setelah dewasa anak yang dibesarkan oleh
keluarga kaya menjadi presiden sebuah perusahaan real estate, sedangkan anak
yang dibesarkan oleh ibu tunggal menjadi seorang sopir truk. Pada akhirnya
sopir truk itu menuntut pihak Rumah Sakit dan mendapat kompensasi, tetapi hal
yang dia sesalkan adalah orang tua kandungnya sudah meninggal saat kasus ini
terungkap dan dia tidak dapat mengenal mereka.
Dari cerita itu
kita mengetahui bahwa memang masing – masing anak memiliki bakat dan talenta
masing – masing, tetapi di keluarga apa dia dibesarkan berpengaruh penting akan
masa depannya. Anak seorang musisi mungkin memiliki bakat seni yang mengalir
dalam dirinya, namun jika dia dibesarkan oleh keluarga pedagang mungkin dia
akan menjadi seorang pemilik toko.
Allah tidak
sedang iseng “menitipkan” seorang anak pada kita. Ia mempercayakan seorang anak
bukan hanya untuk di besarkan tetapi untuk dididik sesuai dengan jalan-Nya.
Anak yang saya maksud disini bukan hanya anak secara biologis, tetapi termasuk
anak – anak rohani yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Anak kecil tidak bisa
tumbuh besar sendiri begitu dilahirkan. Begitu pula dengan pertumbuhan rohani
seorang anak. Jangan berharap anak untuk memiliki sikap hormat pada orang lain
jika di rumah dia melihat kita tidak hormat pada ART kita, atau jangan berharap
anak bisa menjadi anak yang sopan saat kita di rumah berbicara dengan tidak
sopan pada pasangan kita. Anak – anak adalah cerminan perlakuan orang tua di
rumah. Saya percaya anak –anak terhormat bukan lahir dari berapa bagus dan
mahal sekolahnya atau seberapa jauh Negara tempat dia belajar, tapi semua
dimulai dari dalam rumah. Orang tua yang takut akan Tuhan melakukan firman
sehingga bisa dilihat oleh anak – anaknya, bukan dengan kata – kata tetapi dari
perbuatannya. Mereka bisa melihat potensi dari anak – anaknya, mengasah potensi
itu seperti mengasah anak panah, membuat penuh tabungnya dengan panah yang
tajam, sebelum kemudian membiarkan anak – anak panah itu lepas menuju sasaran
yang tepat. Ayo kita pastikan anak – anak kita dan anak – anak rohani kita
tidak berjalan dengan bimbang karena tidak merasakan bimbingan kita, ayo kita
pastikan bila sudah saatnya mereka pergi mereka bisa berjalan dengan teguh dan
tidak goyah, menjadi pribadi terhormat yang memberkati orang lain karena tabung
mereka sudah penuh terisi dengan pengenalan akan Tuhan dan apa yang kita
ajarkan dari rumah.
TUhan Yesus Memberkati
By : Lo Rika Rosandy